DETROIT/DP—General Motors Co. (GM) harus menarik seorang CEO baru yang memiliki “keinginan untuk memimpin sebuah perusahaan besar,” kata Ed Whitacre, dalam sebuah kesempatan temu wartawan dalam kapasitasnya sebagai pejabat sementara chief executive GM.
“Orang itu hendaknya dapat memberi motivasi, inspirasi sebagai pemimpin yang akrab dengan perusahaan-perusahaan besar, manufaktur atau industri. Dan itu akan sangat membantu,” ujar Whitacre kepada wartawan Selasa kemarin (15/12).
Dewan direksi GM sedang mencari figur yang kuat, baik dari dalam maupun luar industri otomotif, kata Whitacre. Selanjutnya ia mengatakan, calon CEO GM mendatang tak perlu seorang mantan pimpinan sebuah perusahaan otomotif besar.
Whitacre, 68, yang mengambil alih CEO GM setelah menggulingkan Fritz Henderson dua minggu lalu, mengatakan tidak tertarik di posisi ini dalam jangka panjang. Dia pun menyatakan tidak yakin bahwa jabatannya akan berlangsung lama.
Selebihnya Whitacre menegaskan, keberadaan dirinya hari ini di GM tidak terlepas dari tuntutan pemerintah federal AS setelah terjadinya bailout. Bahkan karena tuntutan pemerintah AS pula maka GM harus segera mencari CEO baru.
Whitacre menampik isyu yang mengatakan bahwa bergesernya Handerson karena keputusan dirinya yang ingin memotong gaji karyawan. Kata Whitacre, hanya dua karyawan GM—satu lagi Henderson—yang telah menerima gaji lebih dari US$500.000.
Whitacre sendiri mengaku tidak menerima gaji atas posisi sementaranya sebagai CEO GM. Dirinya mengatakan hanya menerima gaji atas jabatannya sebagai chairman. Menurut Whitacre, dewan direksi GM belum akan membayar gaji pekerjaan rangkapnya sebelum rapat pertemuan Januari tahun depan.
“Kita tidak bisa membayar mahal seluruh orang yang bekerja di sini (GM),” katanya. “Tidak ada yang salah pada budaya perusahaan ini, kendati GM mendapat kritik besar karena hanya mampu bergerak lambat dan tidak memiliki akuntabilitas,” lanjutnya.
Selanjutnya Whitacre berujar, ”Saya tahu, terlalu banyak kata yang bisa didefinisikan. Saya mencatat bakat-bakat yang dimiliki seluruh staf yang ada saat ini. Mereka bekerja sesuai keingian untuk membangun. Mereka sangat antusias. Mereka cerdas.”
Whitacre mengaku dirinya bukanlah seorang CEO yang berlatar belakang dari perusahaan otomotif. Whitacre selama puluhan tahun menghabiskan karir di bisnis telekomunikasi. Setelah memutuskan pensiun dari perusahaannya, Whitacre kemudian ditawari jabatan sebagai chairman di GM usai perusahaan ini dinyatakan bangkrut musim semi lalu.
“Saya bukan orang otomotif,” kata Whitacre. Karana itu, Whitacre mengaku dirinya masih belajar tentang terminologi otomotif. “Saya pikir kita semua harus belajar. Saya pun baru belajar kata ‘segmen’ dalam bisnis otomotif,” ucapnya.
Ungkapan tersebut disampaikan Whitacre berkait kesulitan yang dihadapi dirinya dalam menyusun proyeksi yang tepat untuk mobil listrik. “Saya pribadi senang dengan mobil listrik, tapi saya belum tahu membuat proyeksinya,” ungkapnya.
Meski begitu, Whitacre mengatakan perusahaannya sedang mengembangkan produk yang akan memimpin di masa mendatang. Saat ini yang menjadi komitmen GM adalah menciptakan keuntungan jangka panjang. “Kami bukan lagi perusahaan milik swasta. Kami tidak lagi berfikir dalam skema keuntungan jangka pendek,” ujarnya.
Dua prioritas utama yang ditekankan Whitacre untuk perusahaannya adalah meningkatkan penjualan dan pangsa pasar. Namun di sisi lain Whitacre juga menekankan pentingnya menjaga insentif rendah. “Mana yang terpenting dari pilihan itu, saya tidak tahu. Tapi kami pasti akan memikirkannya,” sambutnya.
Whitacre saat ini menetap di hotel Marriott yang terhubung dengan Renaissance Center di mana markas besar GM berada. Sayangnya, Whitacre merasa kurang nyaman dengan lingkungan itu karena kerap tersasar apabila ingin berjalan menuju kantornya.
“Saya harus berhenti beberapa kali dan bertanya kepada penjaga atau orang-orang, ‘di mana saya?’” ceritanya. Karena kondisi ini Whitacre dan istrinya yang berasal dari Texas berencana mencari kondomonium atau apartemen.
Whitacre pun bercerita bahwa setiap hari dirinya bekerja hingga 14 jam. Ini dilakukannya selama lima setengah atau enam hari dalam seminggu. “Dan ketika saya mencoba melarikan diri untuk berakhir pekan, telepon saya berdering,” katanya.
“Waktu saya hanya memegang jabatan sebagai chairman, saya ke kantor hanya satu atau dua hari seminggu,” imbuhnya. [dp]
Berita Terkait:







Tweet This
Share This
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed
Suara Knalpot Drifting Paling Kocak
Eksis 40 Tahun, Majalah Cycle News Ditutup!
Sports Car David Beckham Terjual Hampir 1 Miliar
Cerita di Balik “Kentucky Kid” Nicky Hayden











